Pernahkah Ayah, Bunda, atau adik-adik di sini merasa dada begitu sesak, pikiran sangat penuh, dan rasanya ingin sekali 'lari' dari kenyataan?
Di saat-saat seperti itu, terkadang kita mencari jalan pintas untuk menenangkan diri. Ada yang pergi belanja, ada yang tidur seharian, dan ada pula yang harus bergantung pada obat-obatan penenang dari dokter agar bisa tidur nyenyak.
Namun, ada sebuah kalimat menyentuh dari seorang psikiater yang perlu kita renungkan bersama:
"Mau obat sebagus atau sebanyak apa pun, itu hanya mampu menenangkanmu sesaat, tetapi tidak mampu menyelamatkan jiwamu."
Lalu, bagaimana caranya agar jiwa kita benar-benar bisa 'selamat' dan merasakan kedamaian yang seutuhnya? Mari kita obrolkan dengan santai di bawah ini, ya.
1. Obat itu Seperti Plester, Tapi Hatimu Butuh Disembuhkan
Bayangkan ketika lutut kita terluka karena terjatuh. Kita bisa menempelkan plester agar darahnya berhenti dan lukanya tidak kotor. Obat penenang atau hiburan duniawi itu seperti plester tersebut. Mereka sangat membantu untuk meredakan nyeri sesaat.
Namun, jika di dalam luka itu masih ada kuman atau kerikil yang tertinggal, luka itu tidak akan pernah benar-benar sembuh. Ia akan tetap sakit di dalam. Kerikil di dalam hati kita itu bisa berupa trauma masa lalu, rasa bersalah, atau kebencian yang mendalam.
2. Belajar Berdamai dan Memaafkan Diri Sendiri
Sering kali, orang yang paling keras menghakimi diri kita adalah diri kita sendiri.
- "Kenapa dulu aku sebodoh itu?"
- "Andai saja aku tidak mengambil keputusan itu..."
Yuk, peluk diri kita sendiri hari ini. Katakan pada diri sendiri: "Terima kasih ya sudah bertahan sejauh ini. Kamu sudah melakukan yang terbaik." Maafkan kesalahan-kesalahan kita di masa lalu. Kita hanyalah manusia biasa yang tempatnya salah dan lupa.
3. Melepaskan Racun Bernama 'Dendam'
Memaafkan orang yang sudah merusak mental atau menyakiti kita memang adalah hal tersulit di dunia. Tapi ingatlah, Bunda, Ayah, dan Teman-teman semua, memaafkan itu bukan untuk mereka, melainkan untuk kebebasan jiwa kita sendiri.
Selama kita menyimpan dendam, selama itu pula kita mengizinkan orang yang menyakiti kita "tinggal gratis" di dalam pikiran kita. Usir mereka dengan cara memaafkan dan mengikhlaskan.
4. Pulih Bersama Sang Pencipta
Sebagai manusia yang lemah, kita tidak akan kuat membawa semua beban ini sendirian. Di sinilah indahnya berserah diri.
Cobalah luangkan waktu di sepertiga malam, atau di sela-sela kesibukan ibadah kita. Tarik napas dalam-dalam, lalu tumpahkan semua air mata dan keluh kesah di atas sajadah.
- Perbaiki ibadah kita. Anggap ibadah bukan lagi sebagai kewajiban yang menggugurkan beban, melainkan sebagai waktu istirahat terbaik di mana kita bisa "mengobrol" langsung dengan Allah yang Maha Pengasih.
Catatan Hangat untukmu Hari Ini
Untuk kamu yang sedang berjuang dengan kesehatan mental, baik itu seorang Ibu rumah tangga yang lelah, seorang Ayah yang memikul beban berat, atau anak sekolah yang sedang mencari jati diri:
Kamu itu berharga. Kamu layak untuk bahagia.
Jangan menyerah, ya. Proses pulih memang butuh waktu, tidak bisa instan seperti mie rebus. Jalani pelan-pelan, satu hari demi satu hari, bersama Allah. Semangat, para pejuang mental luar biasa! 💖