Halo, Ayah, Ibu, Adik-adik, dan Sahabat semua yang hatinya sedang singgah di blog ini. Apa kabarnya hari ini? Semoga selalu dalam pelukan kedamaian, ya.
Pernah tidak, di suatu sore setelah seharian lelah beraktivitasβentah itu setelah membereskan rumah yang tidak ada habisnya, mengurus anak-anak, atau setelah seharian belajar di sekolahβtiba-tiba dada terasa sesak? Ada rasa cemas yang menggelayut: "Bagaimana kalau nanti rencana saya gagal?" atau "Kenapa ya, hidup rasanya berat sekali hari ini?"
Sebagai manusia, wajar sekali kita merasa lelah karena seringkali kita ingin mengendalikan semua hal di dunia ini. Kita ingin semua rencana kita berjalan mulus tanpa hambatan. Tapi nyatanya, kita ini makhluk yang terbatas.
Beberapa waktu lalu, saya menemukan sebuah kutipan indah sekali di media sosial yang rasanya seperti pelukan hangat di kala lelah. Mari kita resapi bersama-sama:
"Ya Allah, hari ini aku berhenti memaksa, aku letakkan semua rencanaku pada-Mu, untuk semua cemas yang tak mampu aku pikul sendiri."
"Jika langkahku salah, luruskan. Jika hatiku goyah, kuatkan. Jika jalanku berat, temani."
"Karena.. pengaturan-Mu jauh lebih indah, daripada segala yang dipaksakan. Aku pasrah, bukan karena menyerah, tapi karena percaya, Engkau sebaik-baiknya perencana."
Indah sekali, bukan? Yuk, kita bedah pelan-pelan maknanya dengan bahasa yang sederhana agar bisa kita bawa ke dalam kehidupan sehari-hari.
1. Belajar "Berhenti Memaksa"
Memaksa di sini bukan berarti kita malas-malasan, ya. Bagi Ibu rumah tangga, berhenti memaksa bisa berarti berdamai saat rumah tidak sebersih biasanya karena mainan anak berserakan. Bagi adik-adik sekolah, ini berarti belajar dengan sungguh-sungguh, tapi tidak menyiksa diri dengan kecemasan berlebih tentang nilai ujian.
Saat kita berhenti memaksa kehendak kita harus terjadi detik itu juga, di situlah kita memberikan ruang bagi jiwa kita untuk bernapas.
2. Mengakui Bahwa Kita Butuh Teman
Kutipan di atas berbunyi: "Jika jalanku berat, temani."
Kita tidak diciptakan untuk menjadi pahlawan super yang bisa menahan semua beban sendirian. Mengaku lelah kepada Tuhan, berdoa meminta kekuatan, dan memohon agar jalan kita diluruskan adalah bentuk kekuatan yang sesungguhnya. Itu membuktikan bahwa kita adalah hamba yang butuh bimbingan-Nya.
3. Bedanya "Pasrah" dan "Menyerah"
Banyak orang salah paham dan menganggap pasrah itu sama dengan menyerah. Padahal, keduanya sangat berbeda jauh:
- Menyerah itu putus asa. Kita berhenti berusaha, menggerutu, dan menganggap semuanya telah usai dengan rasa kecewa yang mendalam.
- Pasrah (Tawakal) adalah level tertinggi dari sebuah usaha. Kita sudah melakukan yang terbaik yang kita bisa (belajar, bekerja, merawat keluarga), lalu kita letakkan hasilnya di tangan Tuhan. Ada rasa tenang karena kita percaya bahwa apa pun hasilnya nanti, itulah yang terbaik untuk kita.
Mengapa Rencana-Nya Jauh Lebih Indah?
Bayangkan seorang anak kecil yang menangis karena dilarang ibunya bermain pisau tajam. Si anak merasa ibunya jahat karena tidak memberikan apa yang dia inginkan. Padahal, sang ibu tahu bahwa pisau itu berbahaya.
Begitulah seringkali kita di hadapan Tuhan. Kita menangis meminta sesuatu yang kita anggap baik, padahal Tuhan sedang melindungi kita dari hal yang bisa melukai kita. Pengaturan-Nya selalu lebih indah, meski kadang harus lewat jalan memutar terlebih dahulu.
Untuk Sahabat yang Sedang Lelah Hari Ini:
Yuk, tarik napas dalam-dalam... hembuskan perlahan.
Mari kita bisikkan ke dalam hati kita sendiri: "Tugas saya hanya berusaha dan berdoa dengan baik. Sisanya, biar Tuhan yang atur. Saya percayakan hidup saya pada sebaik-baiknya perencana."
Selamat beristirahat malam ini dengan hati yang lapang dan tenang, ya. Sampai jumpa di cerita hangat berikutnya!