Pernahkah Anda Merasakan "Silent Treatment"?
Halo Sahabat, Ayah, Ibu, dan adik-adik sekalian.
Bayangkan situasi ini: Suatu hari, anak kita melakukan kesalahan kecil, atau mungkin kita sebagai suami/istri berbuat khilaf. Alih-alih marah atau menegur, pasangan atau orang tua kita justru diam seribu bahasa. Mereka tidak menyapa, tidak memandang, bahkan menganggap kita tidak ada.
Rasanya sesak sekali, bukan? Marah rasanya masih lebih baik karena tandanya mereka masih peduli. Tapi kalau sudah dicuekin, rasanya sakit sekali tapi tidak berdarah.
Nah, tahukah Anda? Di dunia ini, ada jenis "silent treatment" yang jauh lebih menakutkan dari itu semua. Yaitu ketika Allah SWT berpaling dan mendiamkan kita.
Ketika "Alarm" di Dalam Hati Kita Mati
Ada sebuah kutipan indah namun menggetarkan hati yang berbunyi:
"Apa hal yang paling menyakitkan di dunia ini? Ketika Allah berpaling darimu dan membiarkanmu terus-menerus berbuat dosa tanpa merasa bersalah sedikit pun."
Mari kita sederhanakan ini dengan analogi alarm rumah.
Setiap manusia dibekali alarm alami oleh Allah bernama hati nurani.
- Saat pertama kali kita berbohong, hati rasanya deg-degan (alarm berbunyi).
- Saat kita melewatkan ibadah, ada rasa bersalah yang menggelayut di dada (alarm berbunyi).
Namun, jika kita terus-menerus berbuat salah dan mengabaikan alarm itu, lama-kelamaan alarmnya akan rusak. Kita mulai terbiasa berbuat dosa, bahkan merasa "baik-baik saja" dan menganggapnya hal lumrah.
Inilah yang disebut dengan Istidrajโsaat kita merasa hidup kita lancar-lancar saja, rezeki mengalir, padahal kita sedang makin jauh dari-Nya. Allah membiarkan kita hanyut karena Dia telah berpaling.
Teguran Keras dari QS. Al-Mu'minun Ayat 108
Dalam Al-Qur'an, Allah memberikan peringatan yang sangat menyayat hati bagi orang-orang yang semasa hidupnya mengabaikan-Nya:
ููุงูู ุงุฎูุณูุฆููุง ูููููุง ููููุง ุชููููููู ูููู
Allah berfirman: "Tinggallah dengan hina di dalamnya (neraka), dan janganlah kamu berbicara dengan Aku." (QS. Al-Mu'minun: 108)
Bisa dibayangkan betapa pedihnya kalimat ini? Ini adalah puncak dari segala kesedihan. Diabaikan oleh Sang Maha Pengasih, pencipta kita sendiri, untuk selama-lamanya.
Bagaimana Cara Menjaga Hati Agar Tidak Membatu?
Untuk para ibu di rumah, ayah yang sedang bekerja, maupun adik-adik yang sedang bersekolah, jangan berkecil hati. Selama kita masih memiliki keinginan untuk memperbaiki diri, artinya Allah masih peduli pada kita.
Berikut langkah sederhana untuk merawat hati kita:
- Jangan Remehkan Rasa Bersalah: Jika setelah berbuat salah (seperti bergosip, membentak anak, atau menunda salat) hati terasa tidak tenang, bersyukurlah! Itu tandanya alarm iman Anda masih berfungsi. Segera ucapkan Astaghfirullah.
- Basahi Lidah dengan Istighfar: Jadikan istighfar sebagai kebiasaan harian saat mencuci piring, menyetir, atau sebelum tidur.
- Berdoa Memohon Ketetapan Hati: Sering-seringlah membaca doa ini:
"Ya muqallibal quluub, tsabbit qalbii 'ala diinik" (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).
Yuk, kita saling menjaga dan mengingatkan di dalam keluarga kita masing-masing. Semoga Allah senantiasa membimbing langkah kita dan tidak pernah berpaling dari kita semua. Amin ya Rabbal 'Alamin.