Halo Ayah, Bunda, Adik-adik, dan Sahabat semua! Bagaimana kabarnya hari ini? Semoga selalu dalam keadaan sehat dan hatinya diliputi kedamaian, ya.
Pernahkah terpikir oleh kita, kenapa ya ada orang yang hidupnya terlihat sederhana sekali, rumahnya biasa saja, tapi keluarganya selalu terlihat ceria dan penuh tawa? Sebaliknya, ada orang yang punya mobil mewah, rumah megah, tapi bawaannya selalu gelisah dan merasa kurang.
Nah, beberapa waktu lalu, ada sebuah pesan bijak berbahasa Sunda yang lewat di media sosial saya. Pesan ini disandingkan dengan gambar tokoh Wayang Golek yang khas. Kalimatnya sangat mendalam:
"Rek sakumaha geude na panto rezeki dibuka, Lamun maneh nutup Rapet panto syukur maneh, Najan boga Gunung emas ge moal mantak nyieun maneh bahagia."
Artinya kurang lebih begini:
"Sebesar apa pun pintu rezeki dibuka untukmu, jika kamu menutup rapat pintu syukurmu, bahkan jika kamu memiliki gunung emas sekalipun, itu tidak akan membuatmu bahagia."
Yuk, kita ulas maknanya dengan santai sambil ditemani secangkir teh hangat!
Kisah Dua Pintu: Pintu Rezeki dan Pintu Syukur
Bayangkan diri kita tinggal di sebuah rumah yang memiliki dua pintu utama: Pintu Rezeki dan Pintu Syukur.
Setiap hari, Tuhan mengirimkan berbagai macam paket kebaikan lewat Pintu Rezeki. Paket itu tidak selalu berupa uang segepok ya, Bun. Paket itu bisa berupa:
- Tubuh yang sehat sehingga bisa mengantar anak sekolah.
- Masakan hari ini yang habis dimakan keluarga dengan lahap.
- Anak-anak yang bisa tertawa riang di ruang tamu.
- Udara segar yang bisa kita hirup gratis setiap pagi.
Tapi, ada satu syarat agar paket-paket indah itu bisa masuk dan membuat rumah kita terasa hangat dan bahagia. Syaratnya adalah kita harus membuka Pintu Syukur.
Jika kita menutup rapat Pintu Syukur kitaβmisalnya dengan terus mengeluh, membandingkan hidup kita dengan postingan tetangga di media sosial, atau selalu merasa kurangβmaka semua paket rezeki tadi hanya akan menumpuk di luar. Kita tidak akan pernah bisa menikmati indahnya paket-paket tersebut, meski jumlahnya sebanyak gunung emas!
Mengapa Gunung Emas Saja Nggak Cukup?
Untuk adik-adik yang masih sekolah atau kita yang sedang berjuang mencari nafkah, kadang kita berpikir: "Ah, kalau aku punya uang banyak/gadget terbaru, aku pasti bahagia."
Benarkah begitu?
Kenyataannya, keinginan manusia itu seperti meminum air laut. Semakin diminum, semakin haus. Kalau hari ini kita punya motor, besok kita ingin mobil. Setelah punya mobil, kita ingin mobil yang lebih mewah. Tanpa adanya rasa syukur, kita akan terus lelah berlari mengejar sesuatu yang tidak ada ujungnya.
Kata kuncinya bukan seberapa banyak yang kita miliki, melainkan seberapa pandai kita menghargai yang sudah ada di tangan.
Tips Sederhana Membuka "Pintu Syukur" Setiap Hari
Memulai kebiasaan bersyukur itu tidak sulit kok. Kita bisa melatihnya bersama keluarga di rumah dengan cara-cara sederhana ini:
Ritual "Tiga Hal Baik" Sebelum Tidur Sebelum memejamkan mata, ajak anak-anak atau pasangan untuk menyebutkan 3 hal baik yang terjadi hari ini. Misalnya: "Hari ini bersyukur jalannya nggak macet," atau "Hari ini bersyukur bisa makan bakso hangat."
Kurangi "Scrolling" yang Bikin Iri Jika melihat media sosial mulai membuat Bunda atau Ayah merasa berkecil hati, yuk letakkan dulu handphonenya. Tarik napas dalam-dalam, dan lihatlah ke sekeliling rumah kita. Peluk anak-anak kita. Di sanalah harta sesungguhnya berada.
Ucapkan Terima Kasih Lebih Sering Katakan terima kasih kepada pasangan yang sudah bekerja keras, atau kepada anak yang sudah mau merapikan mainannya. Apresiasi kecil ini adalah bentuk syukur yang menular dan bikin rumah adem.
Kesimpulan
Sahabat, rezeki kita hari ini mungkin tidak berbentuk gunung emas yang berkilau. Tapi, selama kita masih memiliki napas, kesehatan, dan keluarga yang menyayangi kita, kita sebenarnya sudah sangat kaya raya.
Mari kita buka lebar-lebar pintu syukur kita hari ini. Ucapkan Alhamdulillah, tersenyumlah, dan rasakan betapa hangat dan ringannya hidup ini.
Bagaimana dengan Anda? Apa satu hal kecil yang paling Anda syukuri hari ini? Tulis di kolom komentar, yuk!