Menemukan 'Cahaya' yang Dekat Namun Tak Terlihat
Halo Ayah, Bunda, Adik-adik, dan teman-teman semua. Pernahkah kalian mencari kacamata padahal kacamata itu sedang kalian pakai di atas kepala? Atau mencari kunci motor yang ternyata sedang kalian genggam sendiri?
Kadang, hal yang paling dekat dengan kita justru menjadi hal yang paling sulit kita temukan. Itulah yang ingin saya ceritakan hari ini, terinspirasi dari sebuah pesan menyentuh yang saya temukan baru-baru ini.
"Aku tersembunyi di tengah terang benderang... Semua mengenal, namun tak sanggup mencari."
Mengapa Sesuatu yang Terang Malah Tersembunyi?
Bayangkan kita sedang berdiri di bawah sinar matahari yang sangat terik di tengah lapangan. Cahayanya ada di mana-mana, menyentuh kulit kita, menerangi jalan kita. Kita tahu matahari itu ada, tapi mampukah kita menatap langsung ke arahnya? Tentu tidak, mata kita akan silau.
Begitu jugalah kehadiran Sang Pencipta dalam hidup kita. Dia begitu nyata, begitu dekat, bahkan lebih dekat dari urat nadi kita. Namun, seringkali keterbatasan kita sebagai manusia membuat kita merasa seolah-olah Dia jauh atau sulit dicapai.
Rahasia di Balik Rahasia
Dalam kutipan tadi disebutkan, "Engkau takkan pernah bisa, sungguh percayalah... Karena aku adalah rahasia sejati."
Kalimat ini bukan ingin membuat kita putus asa, melainkan ingin mengajak kita untuk rendah hati. Seringkali kita merasa bisa mengerti segalanya dengan logika dan kepintaran kita. Padahal, ada bagian-bagian dalam hidupβseperti ketenangan hati, jodoh, maut, dan hidayahβyang merupakan rahasia besar milik-Nya.
Kita tidak perlu menjadi detektif yang harus membongkar semua rahasia Tuhan. Yang perlu kita lakukan hanyalah percaya dan merasakan kehadirannya dalam setiap tarikan napas kita.
Pesan untuk Kita yang Merasa 'Tak Sempurna'
Ada satu kalimat penutup yang sangat jujur: "team pendosa butuh arahan."
Kalimat ini sangat mewakili kita semua, bukan? Tidak ada manusia yang luput dari salah. Kita semua mungkin pernah merasa jauh dari cahaya karena tumpukan kesalahan masa lalu.
Namun, ingatlah satu hal: Lampu hanya akan terasa manfaatnya saat hari gelap.
Justru karena kita merasa penuh kekurangan, itulah alasan terkuat mengapa kita butuh arahan. Jangan malu untuk kembali, jangan takut untuk meminta petunjuk. Cahaya itu tetap ada di sana, menunggu kita untuk sekadar menoleh dan melangkah mendekat.
Mari kita belajar pelan-pelan:
- Sadar: Sadari bahwa setiap kebaikan kecil yang kita terima hari ini adalah tanda kehadiran-Nya.
- Sabar: Sabar saat doa-doa kita belum terjawab, karena mungkin itu masih menjadi bagian dari 'rahasia' indah-Nya.
- Syukur: Mensyukuri hal-hal sederhana yang sering kita anggap biasa saja.
Semoga hari ini kita semua diberikan hati yang jernih untuk melihat 'cahaya' di tengah hiruk-pikuk dunia. Tetap semangat, ya!