Pernahkah Ibu, setelah lelah mencuci piring atau merapikan mainan anak, tiba-tiba termenung dan berpikir, "Duh, apa ya gunanya hidupku? Kok rasanya biasa-biasa saja, ya?"
Atau mungkin adik-adik yang masih sekolah, sering merasa minder melihat orang-orang hebat di media sosial yang punya jabatan tinggi, bisnis sukses, atau prestasi yang segudang. Kita sering kali merasa bahwa hidup ini baru dianggap 'berhasil' kalau kita punya pekerjaan yang keren atau jabatan yang mentereng.
Tapi, tahukah kamu? Ada sebuah kalimat indah yang mengingatkan kita tentang arti hidup yang sebenarnya:
"Misi Jiwa BUKAN soal Pekerjaan atau Jabatan. Ini soal Energi yang seharusnya kamu pancarkan ke dunia."
Yuk, kita bedah bersama dengan bahasa yang sederhana. Apa sih maksudnya?
Memahami "Misi Jiwa" dengan Sederhana
Banyak orang berpikir "misi jiwa" atau tujuan hidup itu adalah sesuatu yang besar dan rumit. Harus jadi dokter, harus jadi direktur, atau harus jadi presiden. Padahal, misi jiwa itu sangat sederhana.
Bayangkan sebuah lampu taman.
Tugas lampu itu bukanlah untuk menjadi pohon yang rindang, bukan pula untuk menjadi bangku taman yang nyaman. Tugasnya hanya satu: menyala dan memberikan cahaya di sekitarnya saat malam tiba.
Begitu juga dengan kita. Misi jiwa kita bukanlah tentang apa pekerjaan kita, melainkan tentang bagaimana kita memperlakukan dunia dan orang-orang di sekitar kita.
Energi Apa yang Kita Pancarkan Hari Ini?
Kata "energi" di sini bukanlah tentang listrik atau tenaga dalam, ya. Energi di sini adalah suasana hati, kebaikan, dan rasa nyaman yang kita bawa ke mana pun kita pergi.
Mari kita lihat contoh kecil dalam kehidupan sehari-hari:
1. Untuk Ibu Rumah Tangga
Ibu mungkin tidak bekerja di kantoran. Tapi, saat Ibu menyajikan sarapan dengan senyuman hangat, mendengarkan cerita si kecil dengan penuh perhatian, atau memberikan pelukan saat suami pulang kerja, Ibu sedang memancarkan energi kasih sayang. Rumah menjadi tempat yang paling aman dan damai di dunia. Itulah misi jiwa Ibu yang luar biasa!
2. Untuk Anak Sekolah
Kamu tidak harus selalu jadi juara satu untuk bisa berguna. Ketika kamu meminjamkan pensil kepada teman yang lupa membawa, menyapa ibu kantin dengan sopan, atau menemani temanmu yang sedang sedih di pojok kelas, kamu sedang memancarkan energi kepedulian. Kamu membuat sekolah menjadi tempat yang lebih menyenangkan.
3. Untuk Siapa Saja
Saat kita mengantre di kasir supermarket, lalu memberikan senyuman tulus serta ucapan "terima kasih" kepada kasir yang tampak lelah, kita baru saja membagikan energi penghargaan. Tindakan kecil itu bisa membuat hari orang lain menjadi jauh lebih indah.
Kamu adalah Cahaya itu
Jadi, mulai hari ini, mari kita ubah cara pandang kita.
Jangan lagi merasa kecil hati hanya karena kita tidak memiliki jabatan yang tinggi atau pekerjaan yang menghasilkan banyak uang. Dunia ini tidak hanya butuh orang-orang berpangkat tinggi, dunia ini justru sangat butuh orang-orang yang berhati hangat.
Apa pun peranmu saat iniβbaik sebagai ibu, ayah, anak sekolah, atau pekerja biasaβingatlah bahwa kamu berharga. Pancarkanlah energimu yang paling indah: cinta, kedamaian, kesabaran, dan kegembiraan kepada siapa saja yang kamu temui.
Sebab pada akhirnya, dunia tidak akan mengingat seberapa tinggi jabatanmu, melainkan seberapa hangat kehadiranmu di hati mereka.
Semangat menebar energi baik hari ini, ya!