Oktober 20, 2017 11:02 am
Home / Blog Galih / Kultum Adalah

Kultum Adalah

Kultum atau kuliah tujuh menit adalah seni, yakni seni menyampaikan sesuatu kepada orang banyak dengan durasi waktu yang tidak banyak, yakni hanya tujuh menit saja sesuai dengan namanya; kultum. Kultum kemudian disebut orang dengan sebutan ceramah singkat yang hanya membahas sedikit hal dari problematikan agama atau hanya sekadar pengingat saja agar orang tak lalai pada masalah agama atau masalah-masalah yang bersifat baik.

Pada sebagian masyarakat, kebiasaan kultum biasanya dilakukan setelah setiap kali menyeleasaikan salat lima waktu. Namun ternyata ada beberapa waktu yang juga biasa dipakai untuk melakukan kultum, salah satunya adalah pada saat hendak memulai salat tarawih pada bulan Ramadhan dengan maksud sambil menunggu jamaah yang lain datang.

Kapan pun penggunaannya, kultum tetap menjadi sesuatu yang tak bisa dianggap sepele, karena kerap kali hanya karena diminta bicara singkat ini, orang mengalami gangguan psikis mendalam atau dalam bahasa lainnya adalah terkena demam panggung.

Orang tersebut terlihat panas dingin sebelum naik podium dan ini membuat ucapannya tidak karuan alias ngelantur ke sana-kemari. Pesan yang ingin disampaikan pada kultum pun menjadi kabur dan waktu yang singkat itu dirasakan pendengar kultum menjadi membosankan karena terasa lama.

Sekali lagi tidak mudah melakukan kultum. Butuh pemaknaan dan strategi yang jitu agar penampilan kita tenang sehingga pesan singkat kultum bisa terpatri lama di benak jamaah. Pasalnya kultum yang pada praktiknya tak hanya dilakukan selama tujuh menit, melainkan lebih adalah sarana komunikasi satu arah, semua mata dan telinga jamaah/pendengar tertuju pada kita. Alangkah lebih baiknya jika memahami betul seluk beluk dalam melakukan kultum.
Kultum Itu Mengajak Kebaikan

Apa esensi dari keberadaan kultum itu? Menjawab pertanyaan ini, alangkah lebih baiknya jika kemudian kita mengutip satu ayat dalam Al-Quran Surat Al-Imran ayat 110 yang berbunyi: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang baik dan mencegah kepada yang mungkar dan beriman kepada Allah.”

Rasanya, ayat di atas menjadi jawaban kunci keberadaaan kultum hari ini. Pasalnya kultum sekali lagi adalah seni berbicara sesuatu yang sifatnya baik kepada khalayak banyak dengan media lisan. Berbicara, dalam konsep agama, ini disebut dengan dakwah, karena dakwah ada yang bersifat hal (prilaku), qalam (tulisan) dan lisan (bicara).

Ini sesuai dengan jejak sejarah agama, terutama Islam yang sangat pesat berkembang pada awal kemunculannya yang konon mampu menjangkau 2/3 bagian bumi. Media yang dilakukan adalah dakwah dengan lisan yang sangat gencar dilakukan para pendakwah yang tersebar di berbagai daerah.

Mereka melakukan apa yang dahulu Nabi Muhammad lakukan saat ia menerima tugas mengemban agama Islam yang di kalangan masyarakat saat itu, adalah agama baru. Maka Muhammad butuh strategi dan keahlian khusus karena segalanya mengandung risiko. Jika salah bicara atau menyinggung perasaan orang lain, nyawa adalah taruhannya.
Kultum Sangat Efektif

Menyampaikan sesuatu atau kultum adalah sarana yang sangat efektif dalam menyebaran kebaikan di muka bumi ini. Karena apa yang ada di dalam ajaran agama langsung disampaikan di depan umum dan seketika mendapatkan responsnya.

Ini sejelan dengan ucapan Syaikh Utsaimin yang mengatakan bahwa cara berdakwah dengan menggunakan lisan dalam hal ini adalah kultum merupakan cara yang paling efektif dalam berdakwah. Dengannya, kita dapat mengetahui secara langsung respon daripada objek dakwah kita sebagaimana tertuang dalam kitab Fatwa-Fatwa karya Syaikh Utsaimin.

Hal ini juga menjadi awal konsep dakwah karena jauh sebelum para ulama berceramah memakain media tulisan, memperbanyak ceramah dengan lisan adalah hal yang paling utama dilakukan. Ini selaras dengan Al-Quran yang turun kali pertama dengan media suara, sebelum akhirnya dibukukan. Hal serupa juga berlaku pada hadist-hadist dan atsar para sahabat yang semula adalah tradisi lisan lalu kemudian dibukukan.

Selain efektif, tradisi berdakwah dengan kultum atau lisan juga ternyata oleh Rasulallah saw. dijadikan sebagai anjuran dalam rangka menegakkan amar makruf dan nahi munkar. Jelas sekali, dalam hadits yang diriwayatkan Muslim, Rasulullah mengingatkan kita akan pentingnya berdakwah dengan lisan ini.

“Barangsiapa melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangan, jika tidak mungkin ubah dengan lisan, jika tidak mungkin dengan hati, dan itulah selemah-lemahnya iman.”

Sungguh jelas sekali perintahnya, bukan? Bahwa kultum adalah tradisi yang baik dan memang itu tak bisa dibantah lagi mengingat sifat manusia yang selalu salah, lupa dan butuh untuk selalu diingatkan. Sekali lagi, kultum adalah seni. Sebagai seni komunikasi, kultum selayaknya memiliki tiga unsur penting yang harus ada di dalamnya.

Pertama, adalah penyampai atau penceramah, kedua penerima atau objek da’wah, dan ketiga adalah pesan atau nasihat apa yang ingin disampaikan dalam kultum kita. Jika tiga hal itu tidak terpenuhi, maka akan heran dan tidak bisa disebut dengan kultum.

Apa yang akan dikatakan jika tak ada penyampainya? Begitu juga untuk apa kultum jika tak ada yang mendengar? Terakhir, ada yang ceramah dan ada yang mendengar namun tak ada sesuatu nasihat yang disampaikan selain cacian dan umpatan yang tidak karuan.
Makna Tiga Unsur Kultum

Tiga hal di atas sejatinya masihlah bersifat umum karena memang ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan kultum. Unsur pertama adalah si penceramah. Tidak sembarang orang bisa bicara di hadapan publik.

Seorang pelaku kultum tak hanya dituntut untuk tampil tanpa gugup, ia juga harus memiliki perilaku baik dan tidak bertentangan dengan dengan apa yang ia sampaikan pada materi kultumnya itu sendiri. Ini juga menandai bahwa Islam sangat tidak menyukai perilaku munafik di mana seseorang melarang berbuat dosa, namun diam-diam melakukannya.

Salah satu syarat mutlak bagi seorang penceramah kultum adalah harus bisa menjaga diri dan agamanya. Setelah itu berhasil, maka biasanya adalah persoalan teknis. Boleh jadi iman si penceramah teguh, namun ternyata teknis penyampaian kultumnya sangatlah buruk dari sisi bahasa sehingga pesannya kemudian mentok tidak karuan. Persoalan bahasa pun harus diperhatikan karena Muhammad sendiri adalah orang yang sangat fasih berbahasa sehingga dalam menyampaikan pesannya, orang selalu jelas dan tidak bertanya-tanya kembali.

Selanjutnya adalah unsur pendengar dalam kultum. Sebagai penceramah, kita tidak boleh egois dengan seenaknya bicara agama kita lebih baik dan agama orang lain buruk di hadapan para pemeluk agama selain Islam. Pendengar kultum sifatnya hendak menerima nasihat, bukan untuk dikompori untuk membenci suatu golongan.

Jika ini sudah terjadi, maka sekali lagi sebagai pendengar Anda berhak mengacuhkan pembicaraan si penceramah dengan tetap menjaga kesopanan karena tak selamanya si penceramah itu bersifat baik. Butuh syarat-syarat ketat guna menjadi seorang penceramah atau penyampai kultum. Lalu bagaimana dengan anak-anak atau remaja yang melakukan kultum di masjid atau sekolah mereka? Itu tentu lain lagi. Karena kultum di sana, atau kultum yang mereka lakukan adalah sebagai ajang pembelajaran demi kebaikan tradisi kultum itu sendiri.

Dengan kata lain, kultum guna kepentingan pendidikan adalah hal yang sangat diperbolehkan meski terkadang kacau balau. Asalkan ada niatan untuk memperbaikinya. Mereka yang belajar, termasuk belajar kultum, akan selalu mendapatkan permakluman dari pihak mana pun, bahkan dari Tuhan sekali pun. Nah, selamat mencoba berkultum.

Catatan: Materi “Kultum Adalah ” ini kami ambil dari berbagai sumber di dunia maya yang tidak bisa kami sebutkan satu per satu.

source : di ambil dari berbagai sumber
semoga bermanfaat,Correct Me If I am Wrong jangan lupa jika ada saran atau kritik silahkan kirim email ke admin@galih.us

About bloggalih

Sebuah Blog Galih yang di tulis oleh Galihrezah yang di rangkum dengan sesimple mungkin namun di balut dengan nuansa islami

Check Also

Manfaat Singkong

Bagi sebagian besar masyarakat terutama diperkotaan, komoditi ini digunakan sebagai bahan pembuatan kue atau makanan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: